

Disudut kecil jalan Kelekak Dukong, Tanjung Pandan hiduplah sebuah keluarga yang penuh dengan keterbatasan, namun memiliki hati yang besar. Pak Kasdi, seorang pria berusia 44 tahun yang sejak lahir hidup dengan disabilitas, terus berjuang meski dengan segala keterbatasannya. Dalam kehidupannya yang sederhana, ia tinggal bersama kedua orangtuanya yang kini sudah lanjut usia dan sakit-sakitan.
Setiap pagi mulai pukul 9 pagi hingga siang hari tepat matahari berada ditengah- tengah atas kepala, ayah dan ibu Pak Kasdi berjuang mengais rezeki dengan memulung, mengumpulkan sampah-sampah bekas seperti botol plastik, yang kemudian mereka jual dengan harapan mendapat beberapa rupiah. Namun, dalam waktu seminggu lebih mereka dapatkan seringkali hanya sekitar Rp. 30.000, jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pak Kasdi dengan segala keterbatasan fisiknya seperti kaki yang sudah kaku bengkok dan berbicara yang terbata-bata kadang terucap jelas kadang tidak terdengan jelas, tidak pernah tinggal diam. Di depan rumah kecilnya, meski hanya selembar tikar, ia berharap bisa meringankan beban keluarganya. Namun sayang, dagangannya tidak selalu terjual dan keuntungannya pun sangat sedikit.
Dengan penuh ketekunan ia tetap setia menunggu orangtuanya pulang dari mulung. Seringkali Pak Kasdi, jug membantu ibunya memilah- milah sampah yang telah mereka kumpulkan, meskipun tubuhnya sendiri telah lelah dan lutunya penuh luka. Ibunya yang kini kerap menderita sakit sendi lutu dan pinggang, tak lagi sekuat dulu. Sementara sang ayah meski memiliki keterbatasan mental.masih mencoba membantu dengan sisa-sisa tenaganya. Namun kekhawatiran selalu menyelimuti hati sang ibu takut jika sewaktu-waktu sang suami jatuh sakit lebih parah.
Dalam kesederhanaan dan keterbatasan ini, keluarga Pak Kasdi tetap berharap.
“kalau memang ada modal, harapan kami bisa punya usaha kecil di depan rumah, seperti jualan es dan gorengan supaya kami tidak hanya mengandalkan mulung.” Ujar Ibu Pak Kasdi
“Kasdi itu jualan sudah 1 bulanan ini, modalnya itu ya hasil mulung ibu yang awalnya hanya Rp. 50.000.” Ujar Ibu Pak Kasdi
“dia ini kenapa sampai kakinya begini, dulu itu bisa lurus Cuma nggak bisa lurus saat berjalan, karena waktu umur belasan tahun sering demam panas tinggi dan duduk kaki ditekuk kebelakang gitu, ditambah sekarang juga punya sakit paru-paru jadi mudah lelah.”Ujar ibu Pak Kasdi
“kalau mau berobat kami nggak punya biaya, makan saja syukur-syukur bisa, itupun harus mulung setiap hari biar ada penghasilan, kenapa nggak kerja dengan orang saya takut untuk ninggalin dia ini, karena mau makan, minum, ke kamar mandi harus dibantu semua jadi saya kasian kalau mau meninggalkan dia satu harian, kalau mulungkan kalau sudah dapat satu karung besar bisa pulang sebentar nanti lanjut lagi, ya dekat sekitar sini aja mulungnya.” Ujar Ibu Pak Kasdi
Harapan sederhana itu kini menggantung dilangit keinginan mereka. Mereka bermimpi, dengan bantuan dari para dermawan, kehidupan mereka bisa berubah sedikit lebih baik. Mari kita bantu Pak Kasdi dan keluarganya, agar mereka bisa memiliki usaha kecil yang bisa menopang kehidupan mereka sehari-hari. Bersama Kitabisa dan LAZISMU Belitung menjadi jalan terang bagi keluarga Pak Kasdi, yang tak pernah lelah berjuang di tengah keterbatasan.